MBG Indonesia, Ilustrasi by Pngtree

FAS — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, adanya dukungan dan kritik masyarakat menimbulkan pertanyaan mendasar, bukan sekadar perlunya MBG, melainkan sejauh mana program tersebut mampu memperbaiki kesehatan peserta didik sekaligus mendukung tujuan pendidikan nasional.

Secara konseptual, kebutuhan terhadap program pemenuhan gizi di sekolah memiliki dasar yang kuat. Anak yang mengalami kelaparan atau kekurangan asupan gizi berpotensi menghadapi hambatan konsentrasi, kesehatan, dan kesiapan belajar. Dalam perspektif pendidikan, kondisi fisik dan psikologis peserta didik merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Artinya, keberhasilan pendidikan tidak cukup ditentukan oleh kurikulum, kompetensi guru, dan fasilitas sekolah, tetapi juga oleh terpenuhinya kebutuhan dasar siswa.

Temuan penelitian Pramesthi dan kolega yang terbit dalam jurnal Nutrients pada 2025 memberikan gambaran empiris mengenai manfaat program makan di sekolah. Penelitian terhadap 454 siswa di 24 sekolah pada empat provinsi di Indonesia menunjukkan peningkatan keragaman konsumsi pangan, frekuensi makan, pengetahuan gizi, dan kebiasaan mencuci tangan. Lingkungan belajar juga menunjukkan perbaikan, termasuk berkurangnya rasa lapar selama pembelajaran. Namun, penelitian terhadap program gizi sekolah tersebut tidak menemukan perubahan signifikan pada status gizi berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur. Temuan ini penting: intervensi pangan dapat memberikan manfaat, tetapi dampaknya tidak otomatis muncul pada seluruh indikator kesehatan maupun pendidikan.

Bagaimana Kualitas MBG?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *