Ilustrasi Literasi by Pxhere

FAS — Literasi yang rendah menandakan krisisnya kemampuan memahami bacaan dan menjadi tantangan serius bagi pendidikan Indonesia. Persoalannya bukan semata-mata apakah peserta didik mampu membaca kata demi kata, melainkan apakah mereka dapat menemukan gagasan utama, menilai informasi, membedakan fakta dan opini, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Jika kemampuan tersebut lemah, proses belajar berbagai mata pelajaran pun berpotensi menghadapi hambatan.

Rilis data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa hanya sekitar 25 persen peserta didik Indonesia berusia 15 tahun mencapai kompetensi minimum membaca. Angka ini jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 74 persen. Temuan tersebut menjadi peringatan penting, meskipun tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat Indonesia mengalami krisis literasi dengan tingkat yang sama.

Krisis Literasi

Sudut pandang objektif menjelaskan bahwa literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mengeja dan membaca teks. Dalam pendidikan modern, literasi juga mencakup pemahaman, interpretasi, evaluasi informasi, dan penerapan pengetahuan. OECD bahkan menempatkan kemampuan memahami teks serta membedakan informasi berdasarkan isi dan sumber sebagai bagian penting kompetensi membaca. Dengan demikian, tantangan Indonesia bukan hanya membangun kebiasaan membaca, tetapi juga memperkuat kualitas pemahaman.

Lantas, bagaimana mengatasinya? Salah satu langkah strategis ialah memperkuat Gerakan Literasi Sekolah (GLS), tetapi pelaksanaannya perlu melampaui kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran. Gerakan literasi harus menjadi budaya yang hidup di kelas, perpustakaan, rumah, dan lingkungan masyarakat. Peserta didik perlu memperoleh akses terhadap bacaan bermutu, kesempatan berdiskusi, latihan menulis, serta pendampingan untuk memahami teks secara mendalam.

Penelitian Simorangkir dan Deliviana (2025) mengenai efektivitas Gerakan Literasi Sekolah di Kabupaten Kuningan menggunakan Model Kirkpatrick untuk menelaah program dari respons peserta hingga hasil yang tercapai. Pendekatan evaluasi semacam ini penting karena keberhasilan program literasi tidak cukup dinilai dari terlaksananya kegiatan, melainkan juga perubahan kemampuan dan perilaku membaca. Artinya, sekolah perlu mengukur dampak program, bukan sekadar melaporkan aktivitasnya.

Konsep dan Gagasan

Gagasan tersebut sejalan dengan teori literasi sebagai praktik sosial yang memandang kemampuan membaca berkembang melalui interaksi dengan teks, lingkungan, dan tujuan penggunaan bahasa. Dalam perspektif konstruktivisme, peserta didik juga tidak cukup menjadi penerima informasi secara pasif. Mereka perlu menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan informasi baru, mengajukan pertanyaan, dan membangun pemahaman melalui diskusi. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis pertanyaan, analisis teks, debat berbukti, dan penulisan reflektif layak menjadi bagian dari strategi penguatan literasi.

Meski demikian, beban tanggung jawab tidak boleh hanya kepada guru dan sekolah. Ketersediaan buku, kondisi sosial-ekonomi keluarga, kompetensi pendidik, akses digital, dan dukungan kebijakan turut memengaruhi kesempatan belajar. Pemerintah perlu memperkuat distribusi bahan bacaan, pelatihan guru, perpustakaan, serta evaluasi kemampuan membaca secara berkala. Keluarga dan masyarakat dapat mendukung melalui kebiasaan membaca bersama dan percakapan kritis tentang informasi sehari-hari.

Krisis literasi tidak dapat diselesaikan hanya dengan kampanye membaca, tetapi membutuhkan perubahan budaya belajar yang terukur dan berkelanjutan. Gerakan literasi akan bermakna ketika peserta didik bukan hanya semakin sering membaca, melainkan juga semakin mampu memahami, mempertanyakan, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Inilah pekerjaan bersama untuk memperkuat fondasi pendidikan Indonesia.

Referensi

  1. OECD. (2023). PISA 2022 Results: Country Note—Indonesia. https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html
  2. Simorangkir, M. R. R., & Deliviana, E. (2025). Effectiveness of the School Literacy Movement Program: An Impact Study Using the Kirkpatrick Model in Kuningan Regency. Jurnal Pendidikan Progresif, 15(2), 868–889. https://doi.org/10.23960/jpp.v15i2.pp868-889
  3. Anggraini, A. E., Sulaeman, Y., & Khotimah, K. (2026). Exploring the Impact and Challenges of the Reading and Writing Literacy Programme: Enhancing Student Literacy Skills. Pertanika Journal of Social Sciences and Humanities, 34(4). https://doi.org/10.47836/pjssh.34.4.19
  4. Ilustrasi by Pxhere, https://pxhere.com/id/photo/674236utm_content=shareClip&utm_medium=referral&utm_source=pxhere

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *