FAS – Di balik ruang kuliah yang dipenuhi mahasiswa, terdapat realitas pekerjaan dosen yang tidak selalu terlihat. Ketika perkuliahan selesai, pekerjaan seorang dosen belum tentu berakhir. Ada proposal penelitian yang harus diselesaikan, artikel jurnal yang menunggu revisi, laporan pengabdian masyarakat, pengisian sistem kinerja, hingga berbagai dokumen administrasi institusi yang harus dipenuhi.
Dosen hari ini menghadapi paradoks profesi. Di satu sisi, tuntutan kepada dosen adalah menjadi pendidik yang mampu membangun kualitas pembelajaran. Di sisi lain, untuk mengukur produktivitas akademik melalui publikasi ilmiah, penelitian, pencapaian jabatan fungsional, dan indikator kinerja institusi.
Kondisi tersebut memunculkan dilema yang menarik untuk dibicarakan: ketika tuntutan administratif dan publikasi semakin tinggi, masih seberapa besar ruang yang tersedia bagi dosen untuk benar-benar mengajar?
Persoalan ini bukan sekadar keluhan tentang padatnya pekerjaan. Lebih jauh, ini menyangkut arah profesionalisme dosen dan kualitas pendidikan tinggi.
Ketika Tri Dharma Berubah Menjadi Perlombaan Produktivitas
Tri Dharma Perguruan Tinggi menempatkan pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sebagai tiga tanggung jawab utama dosen. Ketiganya semestinya berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Namun, dalam praktik kelembagaan, ketiga tanggung jawab tersebut sering kali hadir bersama tuntutan administratif yang tidak sederhana. Dosen harus membagi waktu antara menyiapkan materi perkuliahan, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, mengejar publikasi, dan memenuhi berbagai pelaporan kinerja.
Penelitian Oliveira, Nada, dan Magalhães (2024) dalam Review of Educational Research mengungkapkan bahwa komersialisasi dan orientasi pasar dalam pendidikan tinggi telah meningkatkan beban kerja akademisi, memperbesar tekanan publikasi, serta membatasi waktu untuk melakukan penelitian secara mendalam. Publikasi bahkan menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan karier akademik.
Gambaran tersebut relevan dengan realitas perguruan tinggi di Indonesia. Penelitian nasional terhadap 1.380 akademisi Indonesia yang dipublikasikan dalam PLOS ONE (2026) menemukan bahwa 40,5 persen responden bekerja lebih dari 40 jam per minggu. Tekanan publikasi juga berkaitan dengan penurunan kesejahteraan psikologis dan meningkatnya tekanan mental akademisi.
Temuan ini memperlihatkan bahwa produktivitas tidak selalu identik dengan keberlanjutan profesional. Dosen bisa terlihat sibuk dan menghasilkan banyak dokumen kinerja, tetapi belum tentu memiliki waktu yang cukup untuk meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran.
Mengajar atau Mengejar?
Dilema dosen bukan berarti harus mengurangi penelitian dan publikasi. Justru, dosen yang mengajar membutuhkan kapasitas riset agar materi perkuliahan tidak berhenti pada pengulangan teori. Penelitian dapat memperkaya perspektif, memperbarui referensi, dan menghadirkan persoalan nyata ke ruang kelas.
Masalah muncul ketika publikasi berubah menjadi target kuantitatif yang dikejar tanpa mempertimbangkan kualitas, relevansi, dan kapasitas dosen.
Perlunya mengkritisi persoalan tata kelola perguruan tinggi. Apabila dosen lebih banyak menghabiskan energi untuk memenuhi indikator administratif daripada mengembangkan pembelajaran, institusi berisiko mengalami productivity paradox: capaian dokumen meningkat, tetapi pengalaman belajar mahasiswa belum tentu mengalami perbaikan.
Penelitian Carollina, Mujanah, dan Fianto (2025) terhadap 181 dosen di Surabaya juga mengkaji hubungan tekanan kerja dan kepuasan kerja dengan kinerja dosen. Sementara itu, kajian sistematis Hassim dkk. (2025) mengidentifikasi beban kerja berlebihan, ambiguitas peran, tekanan evaluasi kinerja, dan ketidakseimbangan kehidupan kerja sebagai faktor yang berkaitan dengan stres dan burnout dosen.
Perguruan Tinggi Perlu Mengembalikan Makna Profesionalisme Dosen
Persoalan ini tidak semestinya selesai dengan mempertentangkan pengajaran dan penelitian. Keduanya merupakan bagian integral dari profesionalisme akademik. Evaluasinya adalah sistem yang membuat dosen seolah-olah harus memilih antara hadir secara optimal di ruang kelas atau mengejar target produktivitas institusi.
Perguruan tinggi perlu membangun distribusi beban kerja yang proporsional, menyederhanakan administrasi, menyediakan pendampingan publikasi, serta memberikan penghargaan berdasarkan kualitas kontribusi akademik, bukan semata-mata jumlah luaran.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan apakah dosen harus mengajar atau mengejar. Keduanya tetap penting. Namun, apakah sistem pendidikan tinggi telah memberikan ruang yang adil agar dosen mampu menjalankan keduanya secara berkualitas?
Sebab, perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan dosen yang produktif menghasilkan publikasi, tetapi juga pendidik yang memiliki waktu, energi, dan kesempatan untuk membangun kualitas berpikir mahasiswanya. Jangan sampai dosen semakin sibuk mengejar indikator keberhasilan institusi, sementara esensi pendidikan justru tertinggal di ruang kelas.
Referensi jurnal sebagai pisau analisis
- Mental Health in Academia: A National Survey on Risk and Protective Factors in the Indonesian Context. (2026). PLOS ONE. DOI: 10.1371/journal.pone.0358652
- Hassim, M. H., Laksana, D. P., Rais, R. R., & Aditya, R. S. (2025). Workplace Stress and Burnout among University Lecturers in Indonesia and Malaysia: A Systematic Review of Stressors, Outcomes, and Protective Factors. Public Health and Occupational Safety Journal.DOI: 10.56003/phosj.v1i2.674
- Beyond Workload: Uncovering the Link Between Supervisor Support, Work–Life Balance, and Lecturer Productivity. (2025). Education Sciences, 15(9), 1122. DOI: 10.3390/educsci15091122

